Minggu, 26 April 2026
spot_img
BerandaPemerintahanPEMKAB SIDOARJOBupati Subandi Murka, Kontraktor Terancam Wanprestasi

Bupati Subandi Murka, Kontraktor Terancam Wanprestasi

Sidoarjo – Pembangunan rumah pompa yang seharusnya menjadi benteng terakhir warga dari terjangan banjir justru berubah menjadi sumber masalah baru. Bupati Sidoarjo, Subandi, dibuat geram saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke tiga rumah pompa, Sabtu (27/12/2025). Proyek rumah pompa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, disorot tajam karena mangkrak meski telah dikerjakan selama enam bulan.


Alih-alih mendekati garis finis, progres pembangunan justru tertinggal jauh dari target. Deviasi pekerjaan mencapai angka mencengangkan, yakni 46 persen. Fakta ini menjadi tamparan keras bagi kontraktor pelaksana yang dinilai abai terhadap peringatan sejak awal.


“Ini sudah enam bulan dikerjakan, tapi progresnya jauh dari target. Deviasinya sampai 46 persen. Tidak ada lagi alasan keterlambatan,” tegas Subandi dengan nada tinggi di lokasi proyek.


Bupati menegaskan, sejak awal pihaknya telah mengingatkan agar kontraktor memprioritaskan pengerjaan lantai bawah rumah pompa, bagian paling krusial sekaligus paling rumit. Namun peringatan itu diduga hanya dianggap angin lalu. Hingga kini, lantai bawah belum rampung, memaksa aliran sungai ditutup dan membuat air tak bisa mengalir ke laut.


Akibatnya fatal. Penutupan sungai tersebut memperparah banjir di kawasan Kedungbanteng dan wilayah sekitarnya. Sungai yang seharusnya menjadi jalur pembuangan utama justru berubah menjadi perangkap air bagi warga.


Ironisnya, berdasarkan kontrak awal, proyek rumah pompa Kedungpeluk seharusnya rampung pada 26 Desember 2025. Namun kontraktor kembali diberi “nafas buatan” berupa perpanjangan waktu maksimal 50 hari, terhitung mulai 27 Desember 2025.


“Kalau sampai batas maksimal ini belum juga selesai, kontraktor akan kami tandai wanprestasi,” tegas Subandi, memberi ultimatum tanpa kompromi.


Tak ingin kecolongan, Subandi juga memerintahkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo untuk memperketat pengawasan. Ia menegaskan, kepentingan warga tidak boleh dikorbankan oleh kelalaian pelaksana proyek.
Usai dari Kedungpeluk, sidak berlanjut ke rumah pompa Kedungbanteng dan Banjarpanji, Kecamatan Tanggulangin. Di lokasi ini, Subandi mengumumkan penambahan lima unit pompa guna menekan debit air yang terus menggenangi kawasan terdampak.


“Kami tambah lima pompa untuk wilayah Tanggulangin agar debit air bisa berkurang,” ujarnya.


Di sela sidak, Subandi juga meninjau dapur umum bagi warga terdampak banjir. Pemkab Sidoarjo menyiapkan 4.000 porsi makanan per hari, masing-masing 2.000 porsi siang dan malam, lengkap dengan air bersih, MCK, serta posko kesehatan.


Sementara itu, Kepala DPUBMSDA Sidoarjo, Dwi Eko Saptono, menyebut progres pembangunan rumah pompa Kedungpeluk baru mencapai sekitar 60 persen. Ia berdalih kondisi tanah di tebing sungai yang sangat gembur menjadi kendala utama, ditambah tekanan air akibat pasang laut yang mencapai 120 sentimeter.
“Tekanan air dari sungai dan pasang laut membuat tebing rawan longsor. Ini menjadi tantangan percepatan pembangunan,” jelasnya.


Rumah pompa Kedungpeluk dirancang sebagai sistem pengendali genangan untuk wilayah pesisir Kecamatan Candi dan tiga desa di Kecamatan Tanggulangin, terintegrasi dengan rumah pompa Kedungbanteng. Dengan kapasitas rencana mencapai 2.400 liter per detik—dua kali lipat dari Kedungbanteng—proyek ini seharusnya menjadi solusi jangka panjang.


Namun selama proyek berjalan setengah hati, warga masih harus berjibaku dengan banjir. Ultimatum sudah dilontarkan. Kini publik menunggu, apakah kontraktor mampu menepati janji, atau justru menambah daftar proyek bermasalah di Sidoarjo.@ref

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments